LAPORAN CARA PEMERIKSAAN RHODAMIN-B,METHYL YELLOW,FORMALIN DAN BORAKS PADA MAKANAN
Dosen :
Khiki Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes
Mata
Kuliah : PMM-A (Penyehatan Makanan dan Minuman –
A)
LAPORAN CARA PEMERIKSAAN RHODAMIN-B,METHYL YELLOW,FORMALIN DAN BORAKS PADA MAKANAN
Disusun Oleh :
Nama :
Setiawan Kasim
Tingkat :
II.B / D.IV
NIM :
PO714221161064
Kelompok 6
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN
MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN
LINGKUNGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak
pertengahan abad ke-20 ini, peranan bahan tambahan pangan (BTP) khususnya bahan
pengawet menjadi semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi produksi
bahan tambahan pangan sintesis. Banyaknya bahan tambahan pangan dalam bentuk
lebih murni dan tersedia secara komersil dengan harga yang relative murah akan
mendorong meningkatnya pemakaian bahan tambahan pangan yang berarti
meningkatnya konsumsi bahan tersebut bagi setiap individu.
Dewasa
ini, masyarakat bukan hanya tertarik pada aspek bahan pangan yang memberikan
cita rasa yang enak, tetapi lebih dari itu masyarakat telah tertarik pada
hal-hal yang dimana bahan pangan itu baik untuk dikonsumsi, baik dalam hal cita
rasa maupun komposisi penyusun dari makanan itu sendiri.
Penggunaan
bahan tambahan pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai
bersama, baik oleh produsen maupun oleh konsumen. Dampak penggunaannya dapat
berupa positif maupun negative bagi masyarakat. Penyimpanan dan penggunaannya
akan membahayakan kita bersama, khususnya generasi muda sebagai penerus
pembangunan bangsa.
Saat ini,
bahan tambahan pangan sulit untuk kita hindari karena kerap terdapat dalam
makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari, khususnya makanan olahan.
Apalagi penggunaan bahan tambahan makanan yang melebihi batas maksimum
penggunaan dan bahan tambahan kimia yang dilarang penggunaannya (berbahaya)
yang kerap menjadi isu hangat di masyarakat. Sama halnya seperti bahan pengawet
lainnya, bahan tambahan pangan seperti formalin dan boraks merupakan salah satu
bahan yang dilarang digunakan dalam makanan namun keberadaannya di sekitar kita
sudah tidak dapat dihindari karena begitu banyaknya produsen yang dengan
sengaja menggunakan formalin dan boraks dalam mengolah produksi pangan misalnya
seperti produk olahan daging yakni bakso maupun siomay, guna tujuan tertentu
tanpa memperdulikan dampak yang akan ditimbulkan.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
yang ingin dicapai dari pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.Untuk mngetahui
bagaimana pemeriksaan Rhodamin-B pada makanan
2.Untuk
mengetahui bagaimana pemeriksaan Methyil yellow pada makanan
3.Untuk
mengetahui bagaimana pemeriksaan Formalin pada makanan
4.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Borak pada
makanan
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A.
Boraks
Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan
yang secara alami, bukan merupakan again dati baku pangan tetapi ditambahkan
kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan dan untuk
memperbaiki karakter pangan agar memiliki kualitas yang meningkat (Syah, 2005).
Zat adiktif makanan adalah bahan yang di tambahakan dan di
campurkan sewaktu pengolahan makanan untuk menigkatkan mutu atau bahan yang di
tambahkan pada makanan ataupun minuman pada proses atau pembuautannya dan
terdapat pada hasil akhirnya (Pardiazi, 1980).
Menurut peraturan Menteri Kesehatan
R.I.No.329/Menkes/PER/XII/76, yang dimaksudkan dengan adiktif makanan adalah
bahan yang di tambahkan dan di campurkan sewaktu pengolahan makanan untuk
meningkatkan mutu termasuk kedalam aroma, pemantap, antioksidan, pengawet,
pengemulsi, antigumpal, pemucat dan pengental (Winarno, 1992).
Boraks merupakan salah satu zat adiktif pada makanan. Yakni
zat yang di tambahkan dan dicampurkan pada makanan sewaktu pengolahan
makanan dengan maksud untuk menarik (pewarna), menambah selera (pemanis),
menyedapkan (penyedap), mengharumkan dan sebagai bahan pengawet makanan dan
sebagai pengenyal. Boraks yang di gunakan sebagai pengenyal berupa sodium
boraks, yang salam istilahawamnya disebut bleng.
Banyak makanan yanng berasal dari jawa
menggunakan bleng sebagai salah satu bahan dasar pengolahan makanan seperti
gendar atau puli, lopis dan kerupuk gendar atau karak. Memeng dari segi
rasa, makanan tersebut di geamri oleh masyarakat, karena selain enak, gurih dan
kenyal juga tahan lama.
Bleng juga di pergunakan dalam pembuatan bakso
dan mie agar lebih kenyal, menggurihkan makanan, serta tahan lama (Aryani,
2006).
Pemerintah telah meperbolehkan penggunaan boraks sebagai
bahan makanan, namun dibatasi oleh UU Kesehatan dana Keselamatan Nasional,
batasnya hanya 1 gram per satu kilogram pangan, bila lebih itu ilegal, pelaku
akan di penjara 12 tahun bila menambahkan lebih dari 1 gram per 1 kilogram pangan
(Anonim, 2013 ).
B.Rhodamin B
Rhodamin B adalah salah satu zat
pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas . Zat
ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang penggunaannya pada makanan melalui
Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85. Namun penggunaan
Rhodamine dalam makanan masih terdapat di lapangan. Contohnya, BPOM di Makassar
berhasil menemukan zat Rhodamine-B pada kerupuk, sambak botol, dan sirup
melalui pemeriksaan pada sejumlah sampel makanan dan minuman. Rhodamin B ini
juga adalah bahan kimia yang digunakan sebagai bahan pewarna dasar dalam
tekstil dan kertas. Pada awalnya zat ini digunakan untuk kegiatan histologi dan
sekarang berkembang untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan sifatnya
dapat berfluorensi dalam sinar matahari (Hamdani, 2013)
Di dalam Rhodamin B sendiri terdapat
ikatan dengan klorin ( Cl ) yang dimana senyawa klorin ini merupakan senyawa
anorganik yang reaktif dan juga berbahaya. Rekasi untuk mengikat ion klorin
disebut sebagai sintesis zat warna. Disini dapat digunakan Reaksi Frield-
Crafts untuk mensintesis zat warna seperti triarilmetana dan xentana. Rekasi antara
ftalat anhidrida dengan resorsinol dengan keberadaan seng klorida menghasilkan
fluoresein. Apabila resorsinol diganti dengan N-N-dietilaminofenol, reaksi ini
akan menghasilkan rhodamin B.
Selain terdapat ikatan Rhodamin B
dengan Klorin terdapat juga ikatan konjugasi. Ikatan konjugasi dari Rhodamin B
inilah yang menyebabkan Rhodamin B bewarna merah. Ditemukannya bahaya yang sama
antara Rhodamin B dan Klorin membuat adanya kesimpulan bahwa atom Klorin yang
ada pada Rhodamin B yang menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam
tubuh manusia. Atom Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen,
dan sifat halogen yang berada dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan
karsinogen (Nizma, 2013)
C.Formalin
Formalin
adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam
larutan formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air dan merupakan
anggota paling sederhana dan termasuk kelompok aldehid dengan
rumus kimia HCHO. Formalin biasanya diperdagangkan di pasaran dengan nama
berbeda-beda antara lain yaitu: Formol, Morbicid, Methanal, Formic aldehyde,
Methyl oxide, Oxymethylene, Methylene aldehyde, Oxomethane, Formoform,
Formalith, Karsan, Methyleneglycol, Paraforin, Polyoxymethylene glycols,
Superlysoform, Tetraoxymethylene, dan Trioxane.
Formalin biasanya digunakan
pada :
- Bidang
kesehatan : desinfektan dan pengawet mayat
- Industri
perkayuan dan plywood : sebagai perekat
- Industri
plastik : bahan campuran produksi
- Industri
tekstil, resin, karet dan fotografi : mempercepat pewarnaan.
Dari hasil sejumlah
survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan
menggunakan formalin sebagai pengawet misalnya ikan segar, ayam potong, mie
basah, bakso, ikan asin dan tahu yang beredar di pasaran, dengan ciri sebagai
berikut:
-
|
Tahu
yang bentuknya sangat kenyal, tidak mudah hancur, awet beberapa hari dan
berbau menyengat.
|
|
-
|
Mie
basah yang berwarna lebih mengkilat serta awet beberapa hari dan tidak mudah
basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin.
|
|
-
|
Ayam
potong yang berwarna putih bersih, awet dan tidak mudah busuk.
|
|
-
|
Ikan
basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan
merah segar, awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk.
|
|
-
|
Ikan
asin yang bentuknya bagus, tidak lembek, tidak bau, dan awet.
|
|
-
|
Bakso
yang berwarna lebih putih dan lebih keras serta awet sampai beberapa hari dan
tidak mudah busuk.
|
Formalin
tidak diizinkan ditambahkan ke dalam bahan makanan atau digunakan sebagai
pengawet makanan, tetapi formalin mudah diperoleh dipasar bebas dengan harga
murah. Adapun landasan hukum yang dapat digunakan dalam pengaturan
formalin yaitu:
-
|
UU Nomor : 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan
|
|
-
|
UU Nomor : 7 tahun 1996 tentang Pangan
|
|
-
|
UU Nomor : 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
|
|
-
|
Kepmenkes Nomor : 1168/Menkes/Per/X/1999
tentang Bahan Tambahan Makanan
|
|
-
|
SK Memperindag NomorPemakaian formaldehida pada
makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala: sukar
menelan, mual, sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, mencret darah,
timbulnya depresi susunan syaraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi
formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi
(kejang-kejang), haematuri (kencing darah) dan haimatomesis (muntah darah)
yang berakhir dengan kematian. Injeksi formalin dengan dosis 100 gr dapat
mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.
Formalin tidak termasuk dalam
daftar bahan tambahan makanan (additive) pada Codex Alimentarius, maupun yang
dikeluarkan oleh Depkes. Humas Pengurus Besar Perhimpunan Dokter
spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) menyatakan formalin mengandung
37% formalin dalam pelarut air dan biasanya juga mengandung 10 persen
methanol. Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, karena dapat
menyebabkan kanker, mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan
tubuh, korosif dan iritatif. Berdasarkan penelitian WHO, kandungan
formalin yang membahayakan sebesar 6 gram. Padahal rata-rata kandungan
formalin yang terdapat pada mie basah 20 mg/kg mie.
:
254/2000 tentang Tataniaga Impor dan Peredaran Bahan Berbahaya
|
D. Methanyl yellow
Methanil yellow adalah zat
warna sintetik berbentuk serbuk berwarna kuning kecoklatan, larut dalam air
agak larut dalam aseton. Methanil yellow digunakan untuk memberi kuning.
Methanil yellow merupakan senyawa kimia aromatik yang dapat menimbulkan tumor dalam
berbagai jaringan hati, kandung kemih, saluran pencernaan dan jaringan kulit.
Methanil yellow digunakan untuk pewarna wool, nilon, kulit, kertas, cat,
aluminium, detergen, kayu dan kosmetik.
• Beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya,
kerupuk, mie, pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai
pewarnapada tahu.
• Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna
kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
• Metilen yellow bila digunakan sebagai bahan pangan bisa bersifat
karsinogenik
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
METODELOGI PRAKTIKUM
Pemeriksaan Boraks pada makanan
A. Alat dan Bahan
a. Alat
-Lumpang -pipet
tetes
-Petridish -Cawan
Porselin
-Oven
-pipet ukur
b.Bahan
-Sampel makanan(bakso)
-Reagen Boraks(BO4O7)
-Larutan standar boraks
-Kertas boraks
B. Prosedur Kerja
1.Timbang sampel makanan(bakso)sebanyak
25 gram
2.haluskan dengan menggunakan lumpang
3.Tambahkan aquadesh sebanyak 50ml,aduk
hingga homogen
4.Tambahkan sampel minuman yang sudah
cair,tidak perlu dilakukan perlakuan awal,karena boraks dalam keadaan dingin
membantuk garam.Sebaiknya,sampel makanan sebelum diperiksa dipanaskan terlebih
dahulu dengan suhu 800C selama 3-5 menit setelah tercapai.
5.masukkan sampel makanan kedalam
tabung sebanyak 5ml
6.Tambahkan reagen boraks 1 sebanyak 3
tetes diaduk hingga merata.
7.Siapkan kertas boraks teteskan sampel
pada perlakuan ”2” pada permukaannya 3 tetes dan diamkan beberapa saat jika
ada.Boraks akan terbentuk perubahan warna dari kuning menjadi merah
8.Untuk lebih meyakinkan bandingkan
dengan standar boraks.
Pemeriksaan Rhodamin-B
Beberapa sifat berbahaya dari
Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit
iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari Klorin.
Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah senyawa
tersebut adalah senyawa yang radikal. Pemeriksaannya dilakukan dengan cara
sebagai berikut;
a. Alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Mortal
4) Pipet tetes
5) Tabung reaksi & rak tabung
reaksi
b. Bahan
1) Pereaksi Rhodamin - B ( Test
kit )
2) Sampel
ü Sirup merah cap bintang
ü Kue kukus dengan warna merah
terang
3) Air mineral
4) Kapas
c. Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di
periksa ( sirup merah dan kue kukus warna merah terang );
2) Sampel padat dihaluskan
terlebih dahulu menggunakan mortal;
3) Tambahkan sedikit air agar
sampel menjadi lebih halus atau menjadi homogen dengan air;
4) Kemudian tuangkan masing-masing
sampel ke dalam cawan petri;
5) Ambil air yang telah homogen
dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;
( note : Tanpa ada padatannya )
6) Kemudian masukkan kedalam
tabung reaksi;
7) Lalu tambahkan 10 – 20 tetes
pereaksi I rhodamin - b ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati
tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
8) Setelah itu tambahkan 5 tetes
pereaksi II rhodamin – b;
9) Kemudian tambahkan 10 – 20
tetes pereaksi III rhodamin – b (gunakan pipet tetes yang ada);
10) Dikocok dengan hati – hati;
11) Jika terbentuk warna ungu
(violet) pada lapisan atas, sampel positif mengandung rhodamin – b
Pemeriksaan Formalin
Formalin
tidak diizinkan ditambahkan ke dalam bahan makanan atau digunakan sebagai
pengawet makanan,
karena berbahaya bagi kesehatan dan dapat menyebabkan kematian jika dikonsumsi
dalam kadar yang tinggi. Pemeriksaannya dilakukan dengan cara sebagai berikut;
a. Alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Mortal
4) Tabung reaksi & rak tabung
reaksi
b. Bahan
1) Pereaksi Formalin ( Test kit )
2) Sampel
-Mie basah
-Somay
3) Kapas
4) Air mineral
c. Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di
periksa (mie basah & somay);
2) Masing-masing sampel dihaluskan
terlebih dahulu menggunakan mortal;
3) Tambahkan sedikit air agar
sampel menjadi lebih halus atau menjadi homogen dengan air;
4) Kemudian tuangkan masing-masing
sampel ke dalam cawan petri;
5) Ambil air yang telah homogen
dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;
( note : Tanpa ada padatannya )
6) Kemudian masukkan kedalam
tabung reaksi;
7) Lalu tambahkan 3 – 5 tetes
pereaksi I formalin ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes
demi tetes dan segera tutup botolnya;
8) Tambahkan pereaksi II formalin
± 1mg ( dengan menggunakan ujung stik yang telah tersedia ) kedalam tabung dan
kocok hingga homogen; ( jangan tersentuh tangan )
9) Tutup tabung menggunakan kapas
dan diamkan selama 5 menit;
10) Jika hasilnya positif,
sampel akan berubah warnanya menjadi ungu kebiruan.
Pemeriksaan Methanil Yellow
Methanil yellow merupakan
senyawa kimia aromatik yang dapat menimbulkan tumor dalam berbagai jaringan
hati, kandung kemih, saluran pencernaan dan jaringan kulit. Ciri pangan
dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung
berpendar, banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya
pada kerupuk dan sirup). Pemeriksaannya dilakukan dengan cara sebagai berikut;
a. Alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Tabung reaksi & rak tabung
reaksi
b. Bahan
1. Pereaksi methanil yellow( Test
kit )
2. Sampel
-Sirup kuning
c. Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di
periksa ( sirup kuning );
2) Kemudian tuangkan sampel ke
dalam cawan petri;
3) Ambil sampel menggunakan spet
sebanyak 1 ml;
4) Lalu masukkan kedalam tabung
reaksi;
5) Tambahkan pereaksi methanil
yellow tetes demi tetes secara hati – hati, setelah itu tutup botolnya;
6) Kocok secara hati – hati, amati
perubahan yang terjadi;
7) Jika terbentuk warna
violet kecoklatan, sampel positif mengandung methanil yellow.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.Untuk pemeriksaan Boraks dapat diketahui/diindikasi pada makanan atau
minuman yang mengandung boraks yaitu dengan melihat terbentuk perubahan warna
dari kuning menjadi merah pada kertas boraks.
2.Untuk pemeriksaan Boraks dapat
diketahui/diindikasi pada makanan atau minuman yang mengandung Rhodamin-B yaitu
Jika terbentuk warna ungu
(violet) pada lapisan atas tabung reaksi, sampel positif mengandung rhodamin – b
3.Untuk pemeriksaan Boraks dapat
diketahui/diindikasi pada makanan atau minuman yang mengandung Formalin yaitu Jika hasilnya positif, sampel
akan berubah warnanya menjadi ungu kebiruan pada
tabung reaksi tersebut.
4.Untuk pemeriksaan
Boraks dapat diketahui/diindikasi pada makanan atau minuman yang mengandung
Methyil yellow yaitu ) Jika terbentuk warna
violet kecoklatan, sampel positif mengandung methanil yellow pada
tabung reaksi.
B. Saran
Semoga
hasil dari penelitian ini bisa dijadikkan bahan pertimbangan bagi masyarakat
yang mengkonsumsi dan juga bisa lebih berhati-hati dalam memilih makanan
yang akan dikonsumsi. Tentunya laporan ini masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul laporan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2006. Formalin
bukan formalitas. Buletin CP. Edisi Januari 2006). Hal 1-3.
Anonimous,
2012. Pengertian bakso dan cara membuat bakso, (online), (http://www.geoklik.com/pengertian-bakso-dan-cara-membuat-bakso/290/. diakses tanggal 22 Maret 2018).
Keju,
2012. Isi kandungan gizi bakso – komposisi bakso. (online). (http://keju.blogspot.com/1970/01/isi-kandungan-gizi-bakso-komposisi-nutrisi-bahan-makanan.html. Diakses
tanggal 22 Maret 2018).
http://www.atlm.web.id/2016/11/laoran-praktikum-analisa-boraks-pada.html(Diakses tanggal 22 Maret 2018).
http://rachmitadewii.blogspot.co.id/2013/12/v-behaviorurldefaultvmlo_7617.html (Diakses tanggal 22 Maret 2018).
http://www.atlm.web.id/2016/11/laporan-praktikum-analisa-rhodamin-b.html
(diakses pada tanggal 28 maret 2018)
http://udienz-ajaa.blogspot.co.id/2013/05/laporan-hasl-pemeriksaan-formalin.html
(diakses pada tanggal 28 maret 2018)

Sangat bermanfaat.👍
BalasHapusSangat bermanfaat. Dapat dijadikan suatu referensi agar
BalasHapusLebih berhati hati dlm memilih makanan👍
Dan Semoga penulis dpt memberikan tulisan2 yg lebih baik lagi😁👍👍
Bagus sekali, thanks to upload, semoga bermanfaat bagi penulis dan yang membaca
BalasHapus