laporan pemeriksaan kadar sianida dan timbal pada makanan

Dosen              : Khiki Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes
Mata Kuliah     : PMM-A (Penyehatan Makanan dan Minuman – A)

 LAPORAN PEMERIKSAAN LOGAM BERAT PADA MAKANAN SIANIDA DAN TIMBAL


                                                 
                                         
                                                                      Disusun Oleh  :

Nama               : Setiawan Kasim
Tingkat            : II.B / D.IV
NIM                : PO714221161064
Kelompok 6


KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2018



BAB I
PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang
Logam secara alami terdapat di alam. Jumlahnya semakin meningkat dan mampu mencemari lingkungan dengan semakin meningkatnya proses indrustrialisasi yang tidak dapat dipungkiri pertkembangannya yang pesat.
Pemeriksaan logam berat pada makanan yaitu mengambil parameter sianida(Cn) dan Timbal (Pb). Sianida merupakan salah satu jenis racun yang paling toksik, bereaksi cepat dalam tubuh hewan maupun manusia, dan dapat menyebabkan kematian akut.  Kandungan sianida dipengaruhi oleh kondisi tanah, musim, dan struktur biji. Stabilitas sianida dalam ekstrak biji menurun selama dalam penyimpanan.
Kandungan sianida dipengaruhi oleh kondisi tanah, musim, dan struktur biji. Stabilitas sianida dalam ekstrak biji menurun selama dalam penyimpanan. Setiap bagian tanaman mempunyai kandungan sianida yang berkaitan. Kandungan tertinggi terdapat dalam biji, diikuti oleh buah, daun, batang dan akar.  Biji dengan struktur daging dan kulit yang keras mengandung sianida cukup tinggi, yaitu rata-rata lebih dari 2.000 ppm (Yuningsih, 2008).
Timbal (Pb) adalah logam berat yang secara alami terdapat di dalam kerak bumidan tersebar melalui prose salami dan berasal dari berbagai kegiatan manusia. Timbal yang berasal dari kegiatan manusia bahkan mampu mencapai jumlah 300 kali lebih banyak dibandingkan timbale alami.
Timbal merupakan logam yang bersifat toksik melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar timbal. Intoksikasi timbal bisa terjadi melaluijalur oral, lewat makanan, minuman, pernafasan, kontak lewat kulit maupun mata. Pencemaran timbal pada lingkungan maupun pada makanan memicu untuk mengindikasi adanya timbale pada makanan dan faktor yang menjadikan adanya tingkat pencemaran timbal.

      B.     Tujuan
Untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan Sianida (Cn) dan timbal (Pb) pada makanan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
      A.Sianida (Cn)
             Sianida merupakan salah satu jenis racun yang paling toksik dan cepat reaksinya terhadap tubuh hewan maupun manusia. Dengan dosis yang cukup kecil (0,5-2,5 mg/kg), sianida dapat mematikan hampir semua spesies hewan dalam beberapa menit setelah mengkonsumsinya. Tingkat toksisitas sianida dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ukuran dan jenis hewan, kecepatan mengunyah makanan, jenis sianogen dalam makanan, keaktifan enzim dalam degradasi makanan, dan kesanggupan detoksifikasi sianida.
             Sianida mempunyai sifat autohidrolisis pada suhu 28ºC, maka pada suhu kamar sudah terjadi penguapan (pelepasan sianida), sehingga terjadi penurunan kandungan dan daya toksiknya. Penurunan sianida yang lebih cepat terjadi dalam penyimpanan secara terbuka dibanding secara tertutup. Tingkat kecepatan pelepasan sianida berlainan dari tiap tanaman yang mengandung sianogen, tergantung dari jenis sianogennya yang mudah atau sulit penguraiannya.          Disamping jenis sianogennya, pelepasan sianida juga tergantung adanya peluang kontak antara sianogen dengan enzim (dalam tanaman itu sendiri), misalnya dengan cara pencacahan atau pemotongan akan mempercepat pelepasan sianida (Tweyongyere dan Katongole, 2002 dalam Yuningsih, 2008).
              Sianida merupakan salah satu jenis racun yang paling toksik, bereaksi cepat dalam tubuh hewan maupun manusia, dan dapat menyebabkan kematian akut.  Kandungan sianida dipengaruhi oleh kondisi tanah, musim, dan struktur biji. Stabilitas sianida dalam ekstrak biji menurun selama dalam penyimpanan. Kandungan sianida dipengaruhi oleh kondisi tanah, musim, dan struktur biji. Stabilitas sianida dalam ekstrak biji menurun selama dalam penyimpanan. Setiap bagian tanaman mempunyai kandungan sianida yang berkaitan.
              Kandungan tertinggi terdapat dalam biji, diikuti oleh buah, daun, batang dan akar.  Biji dengan struktur daging dan kulit yang keras mengandung sianida cukup tinggi, yaitu rata-rata lebih dari 2.000 ppm (Yuningsih, 2008)
     
      B.Timbal(Pb
     Timbal atau Timbel adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan nomor atom 82.Dalam bahasa sehari-hari juga disebut Timah hitam, yang harus dibedakan dengan "timah" yang merupakan unsur kimia lain. Lambangnya diambil dari bahasa Latin Plumbum.Timbal (Pb) adalah logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi.
      Keberadaan timbal bisa juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang mana jumlahnya 300 kali lebih banyak dibandingkan Pb alami yang terdapat pada kerak bumiPb terkonsentrasi dalam deposit bijih logam. Unsur Pb digunakan dalam bidang industri modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan pembuat cat, baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraetil.
       Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.
Keracunan akibat kontaminasi Pb bisa menimbulkan berbagai macam hal diantaranya
1.     Menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin (Hb)
2.     Meningkatnya kadar asam δ-aminolevulinat dehidratase (ALAD) dan kadar protoporphin dalam sel darah merah
3.     Memperpendek umur sel darah merah
4.     Menurunkan jumlah sel darah merah dan retikulosit, serta meningkatkan kandungan logam Fe dalam plasma darah.
      Timbal bersifat kumulatif Dengan waktu paruh timbal dalam sel darah merah adalah 35 hari, dalam jaringan ginjal dan hati selama 40 hari, sedangkan dalam tulang selama 30 hari.
        Paparan Pb dosis tinggi mengakibatkan kadar Pb darah mencapai 80 µg/dL pada orang dewasa dan 70 µg/dL pada anak-anak sehingga terjadi ensefalopati, kerusakan arteriol dan kapiler , edeme otak, meningkatkanya tekanan zalir serebrospinal, degenerasi neuron, serta perkembangbiakan sel glia yang disertai dengan munculnya ataksia, koma, kejang-kejang, dan hiperaktivitas.
        Kandungan Pb dalam darah berkorelasi dengan tingkat kecerdasan manusia.Semakin tinggi kadar Pb dalam darah, semakin rendah poin IQ.Apabila dalam darah ditemukan kadar Pb sebanyak tiga kali batas normal (intake normal sekitar 0,3 mg/hari), maka akan terjadi penurunan kecerdasan intelektual.
      Intoksikasi Pb bisa terjadi melalui jalur oral, lewat makanan, minuman, pernapasan, kontak lewat kulit, kontak lewat mata, serta lewat parenteral.Logam Pb tidak dibutuhkan oleh tubuh manusia sehingga bila makanan atau minuman tercemar Pb dikonsumsi, maka tubuh akan mengeluarkannya. Sebagian kecil Pb diekskresikan melalui urin atau feses karena sebagian terikat oleh protein dan sebagian lainnya lagi terakumulasi dalam ginjalhati, kuku, jaringan lemak, dan rambut





BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
1.      Sianida
1.) Alat
    a.   Gelas ukur
    b.   Timbangan digital
    c.   lumping dan alu
           2)      Bahan :
               a.       Buah keluwak
               b.      Aquades
               c.       Reagen Cn
           3)    Cara kerja
               1.      Timbang Buah keluwak sebanyak 25 gr
               2.      Ambil aqudest sebanyak 50 ml ke dalam gelas ukur
                 3.      Kemudian haluskan sampel dengan menggunakan mortal dan pastle
               4.      Berikan aquades sedikit demi sedikit sebanyak 50 ml hingga halus
                 5.      Masukkan sampel buah keluwak sebanyak 5 ml dan simpan kembali ke dalam gelas ukur 50 ml dan di aduk.
               6.      Sampel dimasukkan sebanyak 6ml setiap botol
               7.      Lalu satu botol sebagai pembanding(control) dan satu botol ditambahkan reagen Cn-1 sebanyak 1 sendok,reagen Cn-2 sebaanyak 2 sendok dan reagen Cn-3 sebanyak 3 tetes.
               8.   Diamkan selama 5 menit
               9.   Amati hasilnya.

      2.       Timbal (Pb)
Metode yang digunakan adalah spektrofotometri dengan menggunakan alat Spectroquant Nova. Spektrofotometrimerupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan mengguankan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector Fototube. Spectroquant Nova 60 adalah salah satu portable water analyzer yang sekarang banyak digunakan untuk analisa air baik untuk air minum, air bersih, air proses produksi atau air limbah.
     1)      Alat :
           a.       Gelas ukur
           b.       Timbangan digital
           c.      Spectroquant
           d.       Gelas ukur 5 ml
           e.       Mortal dan pastle
     2)      Bahan :
           a.       Bakwan udang
           b.      Aquades
           c.       Reagen pb
     3)      Cara kerja :
           1.      Timbang Bakwan udang sebanyak 25 gr
           2.      Ambil aqudest sebanyak 50 ml ke dalam gelas ukur
           3.      Kemudian haluskan sampel dengan menggunakan mortal dan pastle
           4.      Berikan aquades sedikit demi sedikit sebanyak 50 ml hingga halus
             5.      Masukkan sampel bakwan udang sebanyak 5 ml dan simpan kembali ke dalam gelas ukur 50 ml dan di aduk.
            6.      Kemudian reagen pb sebanyak 3 tetes dan masukkan sampel pada Spectroquant nova 60
            7.      Amati hasil.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

     A.    Hasil
             1.        Sianida(Cn) 
            Nama Pengambil         : Setiawan Kasim
            Sampel                        : buah keluwak
            Tempat/asal                 : pasar pa’baeng-baeng
            Tanggal/waktu             : 06 maret 2018/12.00 WITA
            Jumlah/hasil pemeriksaan Cn  : 0 x 4 (pengenceran) =0


              2.        Timbal (Pb) 
            Nama Pengambil         : Setiawan Kasim
            Sampel                        : Bakwan udang
            Tempat/asal                 : Jalan cilallang,banta bantaeng
            Tanggal/waktu             : 06 maret 2018/12.00 WITA
            Jumlah/hasil pemeriksaan Pb  :15,63 mg/l x 4 (pengenceran) =62,52mg/l

     B.     Pembahasan
      1.Sianida (Cn)
          Pemeriksaan kadar sianida pada sampel buah keluwak.Tidak terdeteksi adanya kandungan sianida pada sampel tersebut.Walaupun buah keluwak ini memiliki kandungan asam sianida yang konsentrasinya sangat tinggi dan hal inilah mengapa muncul istilah mabuk kepayang.Ada kemungkinan tidak adanya kadar sianida pada buah keluwak yang kami periksa ini sebelum dimanfaatkan atau di distribusikan petani yang menanam buah ini sudah merendam buah ini selama 10-14 hari.Hal ini dikarenakan untuk menghilangkan racun sianida yang melekat pada buah keluwak.
             2.Timbal (Pb)
       Pemeriksaan kadar timbal pada sampel bakwan udang. Terdeteksi adanya kandungan timbal yaitu sekitar 15,63 mg/l. Terdeteksinya kadar timbal pada makanan dipengaruhi oleh faktor lokasi atau tempat dijualnya sampel bakwan udang yaitu di pinggir jalan,dimana jalanan itu biasa dilewati oleh banyak kendaraan setiap harinya yang menghasilkan Pb akibat pembakaran yang dilakukan oleh kendaraan tersebut.Pada saat kendaraan mengeluarkan Pb tanpa diketahui zat ini akan langsung melekat pada makanan melalui perantara udara.
Untuk faktor yang kedua yaitu makanan dan minuman yang tercemar timbal berasal dari kontak dengan udara, air sebagai bahan yang tercemar Pb, kontak dengan wadah alat yang mengandung Pb (pipa, kaleng dipatri, wadah keramik berglasur), serta kontak dengan cat yang mengandung timbal.
Faktor yang ketiga adalah food handle atau yang menangani makanan tersebut yang memungkinkan food handle tersebut kondisi hygiene yang tidak baik sehingga dapat mencemari makanan yang diolah.
Toksisitas timbal, timbal masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, diserap dan diedarkan melalui darah dan terakumulasi dalam hati, pankreas, dan tulang. Dalam beberapa kondisi rata-rata Pb diambil 300 μg dari makanan padat, 20 μg cairan dan 10-100 μg dari udara. Bila timbal terakumulasi dalam tubuh manusia, dapat meracuni atau merusak fungsi mental, perilaku, dan anemia. Apabila tingkat keracunan yang lebih berat dapat menyebabkan muntah-muntah serta kerusakan yang serius pada sistem saraf dan memungkinkan gangguan dalam sistem otak.





BAB V
PENUTUP
     A.     Kesimpulan
  1.Sianida
Setelah melakukan pemeriksaan kadar sianida pada sampel buah keluwak. Diketahui pada sampel buah keluwak tidak terdapat kandungan sianida.Menurut SNI 7387 tahun 2009 kadar maksimun sianida yang diperbolehkan dalam bahan pangan adalah 1 mg/kg.

             2.Timbal (Pb)
Setelah melakukan pemeriksaan kadar timbal pada sampel bakwan udang. Diketahui pada sampel bakwan udang terdapat kandungan timbal sekitar 15,63 mg/l.Peraturan BPOM No.23 Tahun 2017 dimana syarat adanya logam berat Pb pada makanan adalah 0,2 (kecuali untuk ikan predator olahan seperti cucut,tuna,marlin 0,40) mg/kg

B.   Saran
      Untuk para pembaca dan yang ingin melakukan praktikum kedepannya agar pada saat mengambil sampel harus benar-benar memperhatikan kondisi lingkungan yang akan diambili sampelnya agar dapat diketahui tingkat resiko pencemarannya dan pada saat memeriksa sampel harus dilakukan secara teliti agar tidak terjadi kesalahan pada saat pemeriksaan
      










                                                                            Daftar Pustaka

https://sijekablog.wordpress.com/2016/08/17/18/ (diakses pada tanggal 18 maret 2018)












     



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN CARA PEMERIKSAAN RHODAMIN-B,METHYL YELLOW,FORMALIN DAN BORAKS PADA MAKANAN